Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2013

DPR: Kemdikbud masih Setengah Hati Memajukan Kualitas Pendidikan Indonesia

Gambar
Magister-pendidikan . Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR RI dengan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, dengan pembahasan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2012, evaluasi pelaksanaan APBN 2013 dan APBNP 2013 kamis malam (29/8) menunjukan masih belum optimalnya realisasi anggaran Kemdikbud 2013 hingga tanggal 28 agustus 2013, hanya 39,43 %. Surahman Hidayat anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS, dalam keterangannya mengatakan Kemdikbud masih setengah hati dalam memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Ini terbukti belum optimalnya daya serap anggaran Kemdikbud. Realisasi anggaran 2013 belum secara optimal tercapai, diantaranya disebabkan oleh karena proses perencanaan anggaran yang tidak matang dan ditenggarai ada persoalan teknis dalam prosedur penetapan postur anggaran, hal ini dibuktikan dengan adanya sejumlah mata anggaran yang masih diblokir oleh Kementerian Keuangan hingga pertengahan tahun, hai inilah dijadikan alasan oleh pemerintah sebagai faktor penghambat program

Sekolah yang Merakyat, Mengajarkan Pengetahuan dan Ketrampilan serta Menanamkan Nilai-Nilai Moral

Gambar
Oleh: Asep Sapa'at  (Praktisi Pendidikan, Direktur Sekolah Guru Indonesia) Dari dulu sampai sekarang, sekolah masih tetap ada di muka bumi ini. Sekolah, selain mengajarkan pengetahuan dan keterampilan, juga punya peran untuk menanamkan nilai-nilai moral kehidupan. Sejatinya, itulah fungsi dan peran idealisme suatu sekolah.      Sayang seribu sayang, idealisme sekolah kian luntur tak mampu imbangi realitas zaman yang serbarumit. Hari ini, peran sekolah tak cukup sekadar mampu memenuhi hak-hak belajar murid. Tapi, sekolah mesti mampu lakoni peran sebagai agen perubahan sosial kehidupan masyarakat. Budaya hedonis- kapitalis, lahirkan lulusan yang tak sadar diri, untuk apa dan untuk siapa bersekolah. Sekolah hanya jadi institusi yang berguna bagi dirinya sendiri dan melanggengkan kepentingan kelompoknya, tapi tak mampu mengubah potret hidup masyarakat.  Teringat pernyataan Prof Jimly Asshiddiqie tempo hari, "Sekolah itu sama saja. Mau bersekolah di negeri atau swasta, di kota atau

Problem Anak Disaat Liburan: PR Menumpuk yang Tidak Dinilai Guru

Gambar
Magister-pendidikan . Liburan panjang menjelang hari Lebaran yang dinanti telah tiba. Sebagian anak-anak sekolah di Indonesia sudah mulai libur sejak Sabtu kemarin, sementara sebagian lagi akan memasuki liburan sekolahnya pekan ini. Jangankan anak-anak, kita saja para orang tua terutama para ibu, girangnya bukan main jika masa liburan telah tiba. Seolah terlepas sejenak dari "beban" kewajiban mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan sekolah anak-anak.  Bebas dari kewajiban membuatkan bekal untuk makan siang di sekolah, bebas dari kewajiban mendampingi anak mengerjakan PR, bebas dari kewajiban mengantar dan menjemput anak ke sekolah dan tempat les, dan lain-lain aktifitas sehari-hari yang cukup menguras pikiran dan tenaga. Lega rasanya saat anak-anak mendapatkan libur barang dua pekan. Cukuplah bagi kita untuk sejenak beristirahat, dan beralih pada kesibukan yang berbeda, seperti mengerjakan hobi atau mengunjungi keluarga dan teman. Tapi tunggu dulu, benarkah di musim li

Kualitas LPTK Masih Memprihatinkan

Gambar
Magister-pendidikan . Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) prihatin karena kinerja beberapa perguruan tinggi penghasil guru (lembaga pendidikan tenaga kependidikan /LPTK) menyedihkan. Mendidik guru tidak boleh main-main, seadanya, dan semaunya. "Jangan hanya karena ambisi mengeruk keuntungan besar, menyelenggarakan pendidikan guru tidak memiliki standar sama sekali. Saat ini tuntutan terhadap penyiapan calon guru berkualitas menjadi tantangan utama para pengelola perguruan tinggi yang mendidik guru", kata Ketua Umum PGRI Sulistiyo kepada Suara Merdeka, baru-baru ini. Menurutnya, guru berkualitas akan lahir dari pendidikan calon guru yang berkualitas pula. Karena itu, dia berharap IKIP PGRI Semarang tidak sekadar memikirkan diri sendiri tapi sungguh-sungguh dan memastikan menyiapkan calon guru yang berkualitas, berpartisiapsi dalam peningkatan kualitas guru, membangun masyarakat yang lebih maju, dan sejahtera. Lebih khusus lagi, ikut bekerja keras mewujudkan PGRI sebagai o